Teknik Memancing Ikan Laut Yang Ramah Lingkungan

Teknik Memancing Ikan Laut Yang Ramah Lingkungan

Berbagai cara digunakan oleh masyarakat di pesisir Lampung Selatang untuk menangkap ikan di laut mulai dari jaring, keramba jaring apung, bubu hingga cara paling sederhana yaitu memancing.

Salah satu teknik untuk menangkap ikan yang sering digunakan oleh warga Lampung Selatan adalah teknik yang disebut dengan ninggangan. Teknik ini sangat efektif untuk mendapatkan ikan segar dengan hanya bermodalkan pancing, umpan dan joran yang berupa bambu tamiang.

Ninggangan berarti adalah ngoyor dalam bahasa Lampung. Tradisi menangkap ikan dengan ninggangan ini dilakukan dengan dipengaruhi oleh faktor alam. Hujan serta petir, gelombang hinggi, air keruh dan angin kencang membuat teknik tidak dapat dilakukan.

Sementara itu, jika kondisi angin sedang tenang, air laut jernih dan surut jauh maka teknik dapat digunakan. Salah satu pemacing yang menggunakan ninggangan sering menanyakan kondisi pantai kepada pengelola sebelum datang memancing.

Teknik Memancing Ikan Laut Yang Ramah Lingkungan
Teknik Memancing Ikan Laut Yang Ramah Lingkungan

Ketika cuaca mendukung, warga asli dari Desa Tajimalela, Kecamatan Kalianda tersebut selalu memancing dengan tetangganya. Menempuh jarak sekitar 30 kilometer dari tempat tinggalnya, dengan membawa peralatan memancing seperti joran, senar dan pancing, mereka mencari ikan di pantai.

Ikan kerapu, lapeh dan beberapa ikan karang diperoleh dalam proses ninggangan dalam kondisi segar akan dibawa ke rumah untuk dijadikan pindang.

Untuk umpan, mereka menggunakan bulu ayam, usus ayam, udang atau poper untuk memancing ninggangan. “Berhubung lokasinya yang jauh, saya harus memastikan kondisi pantai seeprti apa dengan menelepon pengelola pantai sehingga perjalanan kami tidak sia-sia karena kami harus menceburkan diri ke pantai ketika memancing,” ungkap Ibrohim di Pantai Tanjung Tuha Pasir Putih.

Memancing dengan ninggangan saat ini kerap dilakukan sejak satu bulan terakhir. Kondisi air laut sedang surut jauh hingga batas tubir pantai. Tercatat jarak dapat mencapai 60 hingga 100 meter dari bibir pantai. Kedalaman air sendiri hanya mencapai setengah meter atau yang terdalam hanya sebatas pinggang orang dewasa. Persiapan peralatan dan kondisi fisik yang prima merupakan kunci penting untuk melakukan ninggangan.

Selain itu peralatan keselamatan yaitu pelampung busa dan sepatu karet harus disediakan. Walaupun demikian, kemampuan berenang juga harus dimiliki untuk melakukan teknik ninggangan ini. Lokasi dengan kedalaman air mencapai paha dewasa merupakan pilihan favorit untuk para pemancing ninggangan ini. “Tidak boleh terlalu cetek dan jangan terlalu dalam karena ikan karang kerap bersembunyi di cekungan,” kata Ibrohim.

Air laut yang jernih membuat pemancing dapat melihat kumpulan ikan kerapu, lapeh, simba dan ikan karang lainnya. Jarak antara pemancing juga di atur sehingga semua pemancing dapat saling tolong menolong jika terkena ombak. Peralatan tali berpelampung juga harus disiapkan ditambah dengan koordinasi dengan pihak pengelola pantai.

Dengan teknik ini, selama setengah hari memancing, berbagai ikan dengan berbagai ukuran dan jenis dapat diperoleh. Sekali memancing, bisa mendapatkan ikan dengan berat antara lima hingga 10 kilogram. Ikan yang tertangkap akan tetap dalam kondisi segar karena dimasukan kedalam jaring yang direndam air. “Sesekali kami naik ke tepi pantai untuk istirahat dan makan dengan bekal yang kami bawa masing-masing dari rumah,” lanjut Ibrohim.

Selain memancing, Ibrohim dan Hasan juga mencari ikan dengan menebar jaring. Alat dipasang dengan bentangan puluhan meter. Pemancing lainnya yaitu Usman yang merupakan warga Penengahan menyebutkan bahwa ningganan dilakukan untuk mengisi waktu luang. Ikan yang dapat di peroleh antara lain adalah bandeng, udang lobster, kepiting dan kerapu. “Kami harus menggunakan pancing berukuran tertentu karena ikan karang memiliki gigi yang kuat sehingga senar juga harus kuat sehingga tidak mudah putus,” jelas Usman.

Aktivitas ninggangan atau ngoyor ini didukung oleh Tri Suryanto yang merupakan seorang penyuluh dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dirinya menyebut bahwa ninggangan menjadi cara tangkap ikan yang ramah lingkungan. Tradisi ninggangan merupakan salah satu kearifan lokal di Lampung Selatan dan dapat menjadi daya tarik wisatawan.