Memancing Pagi dari Kaki Bendungan Koto Panjang

Kabupaten Kampar, Riau, tak hanya menyajikan spot-spot indah bagi wisatawan untuk memanjakan mata sebagai rileksasi tubuh setelah bekerja sepekan. Misalnya saja Ulu Kasok sebagai Raja Ampatnya Riau serta Sungai Gulamo bak Green Canyonnya Bumi Lancang Kuning.
Tak kalah eksotis, ada spot menawan yang hingga kini masih banyak dikunjungi orang. Terutama wisatawan yang hobi memancing ikan. Ya, dia adalah bendungan waduk PLTA yang menjadi spot primadona berburu ikan, khususnya di pagi hari.
Di lokasi ini, jika beruntung, pemburu ikan bisa menemukan satwa berukuran tak biasa. Sebut saja Toman, Baung, atau Wallago yang lebih dikenal warga setempat dengan nama ikan Tapah.Saat Kabarberita berkunjung ke lokasi, ternyata tak perlu mengeluarkan modal besar untuk masuk ke lokasi. Cukup membayar uang Rp 10 ribu ke penjaga gapura. Sebelum sampai ke dinding bendungan ini, pelancong akan memasuki sebuah terowongan bernama Lubang Kolam (lubang gelap) peninggalan penjajah Belanda pada 1927.
Sampai di ujung Lubang Kolam,pemancing atau wisatawan bisa membawa motornya hingga sampai ke pinggiran sungai. Di sana ada sebuah warung tempat parkir motor, lalu berjalan beberapa menit menaiki bukit.Tembok tinggi setengah meter merupakan tanda telah sampai ke kaki bendungan. Menuju spot pancing harus ekstra hati-hati. Salah langkah bisa tercebur ke sungai karena jalan yang tersedia hanya satu meter saja.”Wuih, gamang juga dibuatnya. Gak berani lihat ke bawah, jatuh nanti,” ucap seorang warga Pekanbaru yang kebetulan satu rombongan dengan Kabarberita.Setelah berjalan waspada sekitar 500 meter, di dinding bendungan sudah berbaris beberapa pemancing. Satu orang bisa membawa hingga lima pancing dengan tali yang sudah dikaitkan beberapa puluhan mata pancing.”Hanya satu yang dikasih umpan, sisanya akan disambar oleh ikan-ikan karena kebingungan, dikiranya makanan,” sebut Ujang, seorang pemancing di sana.
Kelelahan menaiki dan menuruni jalan ke bendungan bisa terobati menikmati bunyi derasnya aliran sungai. Cuitan burung di lebatnya hutan perbukitan bisa ditemani segelas kopi yang dijajakan pemilik warung berbentuk gubuk kayu.Mulai turunnya hujan tak menyurutkan pemancing mendapatkan strike. Hujan diyakini membuat ikan semakin banyak berkumpul di lubuk air dan pusarannya akibat putaran turbin di bendungan.”Biasanya makin banyak nih bang, kalau hujan begini,” kata pemancing tadi.Pemilik warung menceritakan, dulu posisi mengais rezekinya itu merupakan jalur lintas Riau-Sumatera Barat, termasuk terowongan Lubang Kolam yang menembus perbukitan. Kawasan ini menjadi nadi perekonomian sekitar ketika jalan belum dialihkan.
Dibuatnya bendungan membuat dibangunnya jalan baru di atas bendungan. Meski demikian, lokasi itu tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin melihat bendungan dari dekat, terutama pemburu ikan endemik di Sungai Kampar.”Tu makin banyak pemancing datang, apalagi kondisi air mulai naik. Tangkapannya bisa makin banyak,” sebut pemilik warung yang menjual kopi Rp 5 ribu per gelasnya.