Ini alasan ilmuwan sebut manusia kian berdampak merusak lautan

Menurut penelitian dari Universitas California, Santa Barbara. Dampak manusia terhadap lautan meningkat sebanyak dua kali selama 10 tahun terakhir, dan penelitian ini menganalisis adanya peningkatan kembali pada dekade berikutnya.Dilansir dari Kabarberita, dampak paling besar berasal dari perubahan iklim.
Manusia menyebabkan perubahan iklim sehingga lautan berubah lebih hangat dan lebih asam. Tingkat penghangatannya dapat mencairkan es di Kutub sehingga permukaan laut naik.
Hangatnya suhu lautan dan tingkat keasaman yang meningkan menyebabkan pemutihan karang di seluruh dunia, sehingga mengganggu ekosistem terumbu karang.Terdapat studi lain yang mengatakan, pemanasan global menyebabkan arus laut utama melambat. Sehingga mengganggu pencampuran oksigen dan nutrisi, yang mengganggu ekosistem laut.
Selain itu manusia juga bertanggung jawab atas berkurangnya populasi ikan.Limpasan dari pencemaran melalui daratan ke laut (seperti limbah pabrik).Para ilmuwan sudah melakukan banyak survei untuk menghitung efek kumulatif aktivitas manusia, yang menganggu kesehatan ekosistem laut. Mereka menemukan bahwa dampak manusia pada laut terus meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.”Masalah ini adalah masalah yang bersifat multifaktor, dan harus diselesaikan,” Sebut Ben Halpen, direktur Pusat Nasional untuk Analisa dan Sintesa Ekologi UCSB.
Sumber lain mengatakan, wilayah yang menjadi perhatian adalah Australia, Afrika Barat, Pulau-pulau Karibia Timur, dan Timur Tengah. Habitat mereka seperti hutan bakau, terumbu karang, dan lamun sejenis rumput yang hidup di dasar laut adalah ekosistem dengan keadaan yang terburuk.Untuk melakukan investigasi, para peneliti menganalisis rekonstruksi iklim baru yang mencakup sirkulasi atmosfer dan membandingkan hasilnya dengan data berbasis observasi.
Simulasi model tersebut akhirnya membantu menjabarkan peran lautan dalam perubahan iklim di awal Abad ke-19 dan menunjukkan bahwa model tersebut tidak dapat pulih dari dampak letusan selama beberapa dekade.Konsekuensi itu antara lain melemahnya sistem hujan di Afrika dan India secara terus-menerus, dan pergeseran sirkulasi atmosfer di atas Atlantik-Eropa. Hal ini menyebabkan peningkatan sistem tekanan rendah yang melintasi Eropa Tengah.
Pembentukan gletser di Pegunungan Alpen dari tahun 1820-an hingga 1850-an adalah konsekuensi lain dari meningkatnya curah hujan, karena sirkulasi berubah ketika berkombinasi dengan suhu rendah.Namun, suhu global meningkat lagi dari akhir Abad ke-19 dan seterusnya. Zaman Es Kecil akhirnya digantikan oleh fase pertama pemanasan global, yang memuncak pada tahun 1940-an dan dengan ‘kontribusi’ manusia yang signifikan.