Aceh Jaya Hadirkan Spot Memancing Didalam Hutan Mangrove

Aceh Jaya Hadirkan Spot Memancing Didalam Hutan Mangrove

Indonesia sebagai negara maritim tentunya memiliki kekayaan bahari yang sangat besar. Salah satunya adalah spot memancing yang tidak pernah habis ditemukan dan bahkan spot-spot tersebut tersebar merata disemua provinsi di Indonesia.

Aceh Jaya merupakan wilayah yang berada di pesisir barat-selatan dari Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Kabupaten ini terus berbenah untuk bisa menjadi salah satu pilihan bagi pengunjung dan wisatawan yang ingin menikmati wisata bahari.

Kali ini Aceh Jaya memperkenalkan salah satu spot memancing air tawar yang berada di area Ekowisata Mangrove Desa Gampong Baroe Sayeung, Kecamatan Setia Bakti.

Aceh Jaya Hadirkan Spot Memancing Didalam Hutan Mangrove
Aceh Jaya Hadirkan Spot Memancing Didalam Hutan Mangrove

Spot memancing ini sesungguhnya sudah kerap dikunjungi oleh pemancing akan tetapi karena medan berat yang masih dikelilingi oleh rawa-rawa membuat tidak banyak pemancing yang ingin berkunjung ke sini. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintahan daerah Aceh Jaya membuat jalan yang dimana berasal dari timbunan tanah di rawa-rawa yang membentang 500 meter di spot memancing ini.

Para pengunjung dapat memilih apakah mereka ingin memancing ikan disebelah kiri sungai atau disebelah kanan.

“Alhamdulillah saat ini kawasan ini sudah ditimbun sekitar 500 meter untuk spot memancing. Ini dikerjakan berkat bantuan dari APBD tahun lalu sebesar Rp 1,3 M yang dimana sudah termasuk timbunan sekaligus pembangunan box cover,” kata Abdul Hadi yang merupakan Ketua Ekowisata Mangrove Aceh Jaya.

Abdul Hadi mengatakan bahwa bagi para pecinta mancing, spot di ekowisata ini dapat menjadi tantangan karena memiliki karakteristik yang berbeda selain itu untuk saat ini masih digratiskan.

“Untuk saat ini belum dipungguh biaya apapun. Para pecinta memacning silakan datang tinggal bawa alat mancing mereka. Untuk umpan dapat dibeli disini, jika ingin membawa umpan sendiri juga bisa. Ikan yang ada disini sejenis ikan singa dan ikan GT air tawar,” jelasnya.

Untuk para pengunjung yang ingin istirahat, di spot ekowisata ini juga disediakan sebuah rest area yang menjual berbagai makanan ringan dan minuman seperti kopi.

Abdul Hadi mengatakan bahwa ekowisata mangrove ini akan terus berbenah dengan menghadirkan beberapa tambahan hiburan tidak hanya spot memancing.

“Kedepan kami merencanakan untuk membuka jalur tracking yang kami harapkan dapat menarik minat para pecinta alam. Untuk itu kami telah memplot dana sekitar Rp 50 juta untuk pengembangan wisata tracking ini,” jelasnya.

Selain dana dari desa, Abdul Hadi juga mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah daerah untuk pembangunan berbagai infrastruktur dan fasilitas di ekowisata mangrove ini. Hal ini dikarenakan ekowisata ini akan juga membantu perekonomian masyarakat lokal sekaligus meningkatkan sumber PAD bagi pemerintah Aceh Jaya yang berasal dari pajak.